Memang tak seindah pelangi, namun ingin mewarnai. Memang tak setenang air di danau, namun ingin mendamaikan. Gemercik air itu menyejukkan, terlebih ia jernih dan maslahat. Tetap mengalir itulah harapan. Sang Khaliq mencipta dan mengatur, yang tercipta menghamba dan berikhtiar. ^marku^
Rabu, 29 Agustus 2012
Ikhlas,, hiasi aku !
Hati terenyuh ketika do’a terpanjat padaNya,,
Seketika Ingatan itu kembali mengusik, hati dan fikiran pula ikut menyibukkan diri dengan rintihan cerita silam..
Aku seorang insan yang berfikir telah gagal. Tak berhasil dalam menerobos gerbang tangguh itu.
Banyak jalan telah dilewati, namun tak satupun kunci angan yang kuterima.
Menyalahkan siapa? Tak ada.
Menangisi apa? Kenegatifan otak dalam menyikapi situasi.
Inikah tanda ikhlas yang tidak sepenuhnya? Asa yang tak sampai tergenggam, enggan pergi arsipkan damai.
Yaa Rahman,, dapatkah hamba membedakan mana ujian dan mana nikmat Engkau..
Ampunilah hamba telah lancang memohon segala, tapi mana bukti syukurku kepadaMu..?
Ampunilah hamba, sesungguhnya hamba tahu bahwa Engkau tengah mengasihiku,,ujian inilah bentuk cintaMu,, tapi mengapa ego ini membendungku,,
Ibu,, maafkan anakmu.. deras airmatamu terlalu berharga menangisi anakmu yang tak tahu malu.
Serakah karena asa yang bergejolak. Terlalu sering kepala ini menengadah.
Ibu sayang, airmataku berlinang ketika ku ingat engkau, jerih payah upayamu untuk berikan hal-hal terbaik untukku.
Namun mana bukti terimakasihku padamu? Hanya rengekan semata yang kau dengar.
Hanya kekecewaan yang tak jarang hinggapi hatimu yang mulia, karena siapa? Aku yang lemah.
Asa dan citaku saat itu sekiranya akan terpatri hingga nanti. Karena ku punya mimpi.
Namun aku harus mengajak jiwaraga untuk melihat dan menjalankan realita yang ada. Ya. Menjalankan, bukan hanya sekedar menengok.
Meski aku tak mungkin dapat mengelak bila airmata kembali menguraikan arti sedih.
Skenario yang tak kuharapkan, namun inilah terbaik dariNya.
Innallaaha ma’ashshaabiriin,, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar.
Aamiin..
Kini, kuputar haluan. Berharap tak kembali obsesi itu, tapi lihat yang telah ada didepanku.
Bukan hasil yang kuagungkan, namun proses yang akan menghiasi dalam meraih tujuan indahku.
Dan Ibu, engkaulah semangatku. Meski kau menginginkan aku menjadi salah satu daripada orang-orang sukses di masa depan. Namun rasanya aku tak dapat menjanjikan hal itu. Karena hanya Allah yang memperkarakan segala urusan.
Hanya Ikhtiar dan Do’a yang akan kutegaskan.
Insyaallah..
I need Allah,, forever..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar