Hingga detik ini pun, sepotong kayu yang lusuh, kering, tak bergetah masih menjadi tempat nyaman untuk singgah.
Bagaimana bisa, hati kalahkan logika? Sedang ia selalu bersedih, senggugukkan ratapi pedihnya.
Tak habis fikir, banyak hal yang telah dilewatkan dengan sia-sia, tapi Anda tetap bertahan disana. Tempat seluruh kendali ada.
Siapa saja, tolonglah ulurkan tangan, bawa dia menyadari. Ada hati yang begitu berani menahannya hingga terpatri.
Memang tak seindah pelangi, namun ingin mewarnai. Memang tak setenang air di danau, namun ingin mendamaikan. Gemercik air itu menyejukkan, terlebih ia jernih dan maslahat. Tetap mengalir itulah harapan. Sang Khaliq mencipta dan mengatur, yang tercipta menghamba dan berikhtiar. ^marku^
Rabu, 23 Desember 2015
Barangkali aku diinginkan pergi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar