Selasa, 29 Desember 2015

Redup semua

Marah, aku marah.
Segala hal yang aku takutkan terjadi.
Dia bersinar, kini harus kupaksa untuk padam.

Yang lain mengikuti, apa kata hati? dia enggan tuk temui, sebab hanya satu yang menari atasnya.

Sampai kapan berlarut-larut? dia benar telah pergi.

Rabu, 23 Desember 2015

Barangkali aku diinginkan pergi

Hingga detik ini pun, sepotong kayu yang lusuh, kering, tak bergetah masih menjadi tempat nyaman untuk singgah.
Bagaimana bisa, hati kalahkan logika? Sedang ia selalu bersedih, senggugukkan ratapi pedihnya.
Tak habis fikir, banyak hal yang telah dilewatkan dengan sia-sia, tapi Anda tetap bertahan disana. Tempat seluruh kendali ada.
Siapa saja, tolonglah ulurkan tangan, bawa dia menyadari. Ada hati yang begitu berani menahannya hingga terpatri.

Senin, 21 Desember 2015

Tidak didengarkan

Barangkali memang sulit untuk menerima, kenapa ini semua dimulai, jika akhirnya seperti ini.
Barangkali takkan mudah untuk kembali duduk, ketika telah berlelah-lelah berlari, namun tak ada garis finish yang pasti. Seperti enggan mendengar bisikkan yang lain, tapi hanya satu huruf darimu, itu mampu terpatri. Baik atau tidak huruf-huruf itu, namun bagi hati, itulah ladang mengikhlaskan.
Mudah berucap untuk tegak lagi, namun kenyataannya hati yang menjadi kendali dalam hal ini.
Aku ingin bahagia kembali, bersama.

Sabtu, 07 November 2015

Hanya coretan

Kamu tahu?
Meski langit saat ini kelam, tanpa bintang yang memantulkan cahaya, tanpa rembulan yang biasanya menenggelamkan cahaya-cahaya lain, aku tetap bersyukur sebab masih dapat melihatmu karenaNya.

Seandainya mereka temaniku kembali, aku ingin berkisah bahwa aku mengagumi karya Dia, dan itu ada padamu.

Selasa, 06 Agustus 2013

Puisi Ramadhan

Ramadhan itu embun pagi
bening.. berbinar..
kesejukan terasa hingga ke ubun-ubun..

Ramadhan itu cahaya
Orang orang buta jika tak temukan kau
Benderang.. Menggretakan jiwaraga hingga kau dalam genggaman..

Ya Ramadhan..
engkau waktu yg sempurna..
tapi penciptamu yang Maha Sempurna..

Secercah harapan kabuti gejolak emosi.. Redamkan gelisah.. Karena disampingmu.. Binar-binar kasihNya terasa...

Udara menjadi angin.. Berhembus..berlarian padamu.. Karena kau iming-imingi cahaya kebaikan.

Bagaimana denganku? Dengan diri ini yang entah merangkak berjalan ataukah berlari seperti yang lainnya..
Ayah Ibu.. Entahlah mereka melagukan kembali harmoni keluarga setelah ini, atau bahkan tak pernah lagi..

Barokah Ramadhan orang lain rasa.. Akupun harus rasa.
Cemburu menggebu tanpa basa.

Tapi kini 24 jam terakhir milikmu.. Jiwa terus bertanya, mana keranjang keikhlasan yang penuh dengan berbungkus-bungkus kebaikan?
Apa saja yang dapat dibanggakan diri setelah lewati hari-harimu?
Tersayat kesombongan, kasat keangkuhan..ternyata tak ada.

Tetap saja secercah harapan yang terus berkembang..
Allah Sang Maha Pemilik bumi dan seisinya..kupasrahkan segala padaNya..

Penglihatan kabur.. Berbaur dengan bulir-bulir airnya.. Semoga kutemukan kembali ramadhan.. Ramadhan penuh kesejukan dan aroma yang mewangi..

Rintihan do'a bersujudkan nafas dzikir..semoga Allah memberkahi kami.. Semoga Allah terima rasa cinta kami.. Semoga kebaikan ramadhan melekat dalam setiap langkah hari..detik demi detiknya..
Aamiin Yaa Rahmaan Yaa Rahiim..

Kamis, 04 April 2013

Beristighfar, sadar kenapa berekspresi demikian

Siang ini.. kaki beranjak dari rumah terbaik menuju sebuah rumah sakit. Transportasi umum menghantarkanku, hingga ketika baru saja naik mobil dengan cekat si sopir menginjak pedal gas nya kembali. Kontan raga tak bisa menjaga keseimbangan. Aplikasi hukum newton terjadi.
Sedikit teriak dengan nada rendah, kemudian ku temukan kursi kosong di sebelah seorang ibu setengah baya yang terdiam saja,, tanpa ekspresi tanpa torehan senyum padaku sembari memegangi tas nya. Padahal mungkin beliau tahu bahwa saya kerepotan dengan barang bawaanku hingga tragedi kecil yang terjadi.
So? Gini.. Jadi biasanya seasing-asingnya penumpang di transportasi umum, pasti akan terjadi sebuah interaksi. Negatifnya saya adalah 'lho ada apa dengan ibu-ibu ini.. Diam saja sambil mengatur wajahnya lurus ke depan'
Hingga setelah beberapa kilometer terlewati, ibu itu ternyata mabuk perjalanan tapi beruntungnya beliau telah persiapan mengatasi hal tsb.. (hee)
Kasihan sekali... Tapi berhubung kondisi raga kurang fit, saya cuek-cuek saja. -tapi bukan berarti bales dendam lho-
Hmm hingga 20 KM.. Barulah beliau menyapa saya dengan ramahnya. Bertanya tempat mana yang dituju. Hingga kami sempat mengobrol dalam beberapa kalimat percakapan.
Menggerutu dalam hati:
"Astaghfirullah.. Pikiran ini telah berprasangka buruk terhadap orang lain. Dan mengapa bukannya saya saja yang duluan memberikan aksi. -pengin tertawa mesem...he-
Ya Allah.. Berilah kejernihan pada hati dan pikiran hamba. Aamiin"
Sebuah pengalaman hidup yang bisa dipetik hikmah sebanyak-banyaknya. Tidak perlu menilai orang dari luarnya saja. Tidak perlu menilai orang tidak baik jika dia tidak memberikan sebuah aksi yang dapat menyegarkan jiwa kita. Konsenkan pikiran agar selalu berpikir positif dalam setiap keadaan. Baik itu kondisi yang berat atau ringan.
Baiklah... Hidup itu mudah jika kita tidak mempersulitnya.
(Created by Resti Kardina @RuanganRawatInap)

Rabu, 03 April 2013

Simfoni Alam dan Bangku yang kaku

Lihatlah keluar jendela.. panorama terlihat megah. Cahaya mentari bergerak lurus menebar pada setiap pohon yang merunduk. Membantu mereka meracik bahan pembawa maslahat.
Lihatlah pula langit begitu anggun... menampilkan pesona cerah yang merona. Merebakkan gairah semangat pada setiap persendian.
Kuasa-Nya begitu nyata di hadapan manusia.

Kemudian liriklah ke setiap penjuru ruangan ini..
Hanya tergeletak bangku-bangku tanpa penghuni.
Coretan tak berarti terpampang di setiap lekuk kayu.
Dua bidang datar putih terlihat jernih tanpa ada goresan sang pemberi pengetahuan.
Parahnya, fikiran sesinkron situasi.. Ah sungguh. Mahasiswa bukan?
(Created by: Resti Kardina @RuangPerkuliahan)